|
Petambak udang windu (Monodon sp) tidak perlu putus asa bila udangnya terserang penyakit. Ganti saja dengan membudidayakan udang jenis lain yakni: udang putih (Vaname). Untungnya pun memuaskan. Banyak petambak udang windu yang sudah putus asa. Mereka membiarkan tambaknya terbengkalai. Ketut Sugama, Direktur Perbenihan, Ditjen Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) mengatakan ada sekitar 100 ribu ha tambak udang di pantai utara Jawa saat ini masih terbengkalai. Pasalnya, komoditi udang windu yang biasa mereka tanam tidak lagi bisa hidup karena selalu terkena serangan penyakit ganas. Ketut Sugama menjelaskan ada banyak faktor yang menyebabkan udang windu tersebut mati. “Penyebab kematian udang windu umumnya adalah karena ada inveksi penyakit ganas, lalu lingkungannya yang rusak dan tercemar, benihnya tidak bebas penyakit,” katanya. Ketut yang juga peneliti udang mengisahkan awal mula udang-udang windu Indonesia terserang penyakit. Pertama-tama, ada inveksi penyakit yellow head deaseas pada tahun 1992 di China, Philipina, Thailand dan akhirnya masuk ke Indonesia. Lalu, muncul lagi penyakit baru pada tahun 1997/98: white spot virus, penyakit ini bisa menyebabkan populasi udang windu di tambak mati semuanya. “Serangan penyakit ini membuat usaha budidaya udang monodon gagal total di seluruh dunia,” ungkapnya. 15 Ton/Ha Dalam situasi itu, Ketut menyaksikan Negara China mencoba mengganti udang windu dengan udang vaname dan berhasil. Tertarik dengan keberhasilan China, Ketut pun mengujicoba udang putih asal Amerika Latin ini di Indonesia. Ujicoba dilakukan pada tahun 1999 selama dua tahun. Hasilnya menggembirakan, produktivitas mencapai 15 ton/ha dengan teknik budidaya system intensif dan kepadatan tebar 100 ekor/m2. Cukup memuaskan untungnya. Kemudian, pada tahun 2001, setelah melalui serangkaian ujicoba, udang vaname pun dimasukkan ke Indonesia. Saat ini, tuturnya, sudah 80-90 persen tambak udang di Indonesia menanam udang vaname. Kalau melihat potensi areal untuk tambak udang Indonesia masih sangat luas mencapai 1,2 juta ha, yang sudah digunakan 420 ribu ha. Meski sempat hancur, saat ini, ekspor udang masih memberikan sumbangan devisa yang tinggi kepada Negara. Ekspor udang menduduki rangking ke 6 terbesar dari semua komoditas ekspor Indonesia Sumber : Sinar tani |