|
Total perdagangan tanaman hias dunia mencapai 90 miliar dolar AS/ tahun. Transaksi itu jauh lebih besar dibanding transaksi alas kaki (sepatu) yang hanya 60 miliar dolar per tahun. Indonesia baru mampu mencetak dolar dari ekspor tanaman hias sebesar 15 juta dolar AS, atau hanya seperenam ribunya (1/6 ribu). Beberapa negara yang terjun di bisnis tanaman hias sudah bisa menikmati devisa ekpornya. Costarica misalnya. Negara itu terjun di bisnis ini tahun 1970, kini devisa yang diperoleh dari tanaman penghias ruangan ini mencapai 400 juta dolar AS/tahun. Lalu, Kolombia yang terjun di bisnis ini setahun sebelum Costarica, kini bisa mendapatkan devisa dari ekspor tanaman ini sebesar 1 miliar dolar AS. Dan Indonesia baru bisa mendapat devisa dari tanaman hias 15 juta dolar saja. Dirjen Hortikultura Departemen Pertanian Dr Achmad Dimyati mengatakan Departemen Pertanian mengupayakan agar tanaman hias Indonesia bisa go internasional. ”Tanaman hias kita akan go internasional yakni berorientasi ekspor,” tuturnya kepada Sinar Tani. Kawasan ekspor tanaman hias telah dibangun, antara lain di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. ”Kawasan-kawasan itu dibuat untuk bisa menghasilkan tanaman hias yang bermutu dan sesuai selera pasar internasional,” tambahnya. Untuk itu dalam budidayanya para petani diajak menerapkan prinsip-prinsip budidaya yang baik (Good Agricultural Practices/GAP) dengan mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP). Direktur Budidaya Tanaman Hias Agus Wediyanto menambahkan pasar internasional tanaman hias masih terbuka lebar. Dia mencontohkan permintaan salah satu pembeli dari Belanda sebanyak 30 kontainer tanaman hias per tahun belum bisa dipenuhi. Kemampuan produksi dari tiga gerbang ekspor tanaman hias pada tahun 2011 baru 18 kontainer/ tahun. Besarnya peluang pasar tanaman hias ini direspon pemerintah dengan membuat kemitraan eksportir dengan para petani. ”Kita inginkan para eksportir bisa menjadi inti dari para petani tanaman hias, sehingga mereka juga bisa menikmati devisa ekspor,” tambah Agus Wediyanto. Langkah lainnya adalah dengan melakukan pengembangan pasar di dalam negeri melalui promosi dan pameran. ”Pada bulan Juni 2009, kita adakan Pekan Flori dan Flora Nasional di Tangerang, Banten. Kita ingin menumbuhkan kecintaan masyarakat pada produk nasional,” kata Achmad Dimyati. Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiyah menyambut baik kegiatan promosi flori dan flora di Banten. ”Saya berharap kegiatan ini dapat ditangkap oleh masyarakat untuk meningkatkan wawasan maupun iptek sehingga berguna untuk peningkatan produksi dan kontak-kontak bisnis. Kegiatan ini merupakan suatu prestasi bagi Banten,” tuturnya. Sumber : Sinar Tani |